| Dari pihak keluarga segera berkumpul sebagaimana kebiasaan kecuali ada hal – hal tertentu, mengadakan perundingan dalam rangka penyelenggaraan jasad seseorang itu ada pula ketentuan tentang kedudukan seseorang yang meninggal itu apakah itu orang tua, kakek, atau nenek, bapak atau ibu atau orang yang lebih kecil kedudukan dan usianya dari pihak penyelenggara. Sama – sama memerlukan suatu kesepakatan baik di dalam keluarga maupun dalam kampung / banjar maupun desa itu sendiri. Misalnya sesuatu yang perlu mendapat kesepakatan antara lain : a) Mengkabarkan berita duka kepada pihak – pihak yang perlu diberi tahu dengan mengirim utusan utusan b) Menyampaikan kepada kelian adat di banjar atau kelian suka duka dan turut serta menyelesaikannya c) Menentukan tingkat Pitra Yadnya yang pantas bagi yang meninggal : Apakah ditanam / dikubur / diaben dll Nista – madya – utama ? d) Nunas dewasa kepada yang berwenang memberi keputusan kapan memandikan, kapan ke setra (kuburan) dll. Tergantung tingkat upacaranya. e) Menyiapkan sarana : Bambu, kain putih/kuning, sirih pinang, Gula, kopi, teh. Sebagaimana biasanya terjadi bila sudah terdengar seseorang telah meninggal dunia, maka tanpa diberitahu mereka yang menjalin hubungan dekat pasti akan datang melayat sebagai pernyataan belasungkawa, demikian pula tanda kentongan / kulkul kematian berbunyi maka seluruh lingkungan banjar/desa berduyun – duyun berdatangan dengna tidak membawa sedikit sumbangsih berbela sungkawa. Kedatangan mereka secara tulus turut meringankan beban yang sedang duka dengan bergotong royong menyelesaikan perlengkapan upakara yang diperlukan. Disinilah terlihat nyata kehidupan umat beragama hindu, sifat gotong royong terjalin erat sehingga mempunyai kerja (rangkaian upacara keluarga yang ditinggalkan) menjadi amat ringan, tetapi jangan lupa sifat ketulusan gotong – royong ini harus dipunyai. Semua orang seisi banjar itu saling membutuhkan sifat ini perlu diperkokoh dan dihidupkan terus menerus, karena takut dilanda globalisasi dan sifat individu, tidak kenal satu sama lainnya. Suatu hal yang dapat juga sebagai suatu pengikisan/rongrongan dari rasa gotong royong ini adalah hidup yang penuh bergejolak mencari makan, pekerjaan kedinasan yang semakin berkembang yang dapat menampung laki – perempuan, sehingga agak sulit melestarikan budaya gotong royong ini apalagi zaman ini banten – banten / upakara – upakara lebih banyak diberi dari pada membuat sendiri meskipun untuk membeli diperlukan banyak uang daripada membuat sendiri dengan bentuk kegotong royongan. Demikian tahap awal dari jazad orang yang meninggal diselesaikan sampai dapatnya ketetapan tertentu dalam penyelenggaraan selanjutnya. Oleh karena banyak hal yang menyangkut upakara putra yana dan adanya beberapa tingkat cara penyelesaian upacara pitra yajna yang mengandung nilai susila – madya utama yang disertai Desa Kala Patra, maka penyusun pitra Yajna akan mencoba mengenalkan dulu alat – alat perlengkapan pitra yadnya menista – madya – utama yang nantinya dapat di susun paling akhir upakara dan upacara mana yang diperlukan. Dengan mengenal perlengkapan pitra yajna yang disesuaikan dengan kemampuan kami menyusunya setidak – tidaknya bentuk upakara pitra yadnya sudah tergambar jelas untuk mengantar anda menyelesaikan sebuah karya pitra yajna, kendatipun masih jauh dari kesempurnaan. | Pak Agus Bos Hotel "Wayang Kulit Cenk Blonk" |